BATAM  

Zuriat Riau Lingga Minta Kapal Pengangkut Ikan di Karimun Diaudit, Tak Main-main

Said Andy SBQ, Pewaris Zuriat Riau Lingga.

BATAM, hallopost.com – Pewaris Zuriat Kesultanan Riau Lingga, Said Andi SBQ yang juga merupakan Sekretraris Pemuda Panca Marga (PPM) Provinsi Kepulauan Riau serius menyoroti permasalahan kelautan Kepri, diantaranya merupakan sektor perikanan tangkap dengan ijin pusat.

Menurut Said Andy, dengan luas lautan 96% lautan harusnya optimalisasi di bidang perikanan terjadi dalam bentuk berkembangnya sektor industry dari perikanan tangkap yang ada di kepri.

Said Andy menengarai bahwa telah terjadi praktek Ilegal Unreported Unregulated (IUU) Fishing di Kepri.

Bukan hanya maraknya kapal asing yang mencuri ikan, tetapi juga dengan minimnya laporan hasil tangkapan dari kapal perikanan lokal ijin pusat yang beroperasi di Kepri.

“Sebagai contoh adalah Tanjung Balai Karimun dengan armada penangkapan ikan yang luar biasa,” ujarnya.

Ia juga melihat bahwa setidaknya ada 18 unit kapal pengangkut ikan dengan Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan (SIKPI) yang masih aktif di tahun 2022 ini.

“Ikannya mana? Untuk mengurus SIKPI bukan biayanya murah biaya,” cetusnya.

Menurut Andy, ini merupakan permasalahan internal Kepri yang harus selesai terlebih dahulu.

“Saya dengan tegas meminta agar hasil perikanan dari 18 Kapal pengangkut ini di audit tahun ini, dan setidaknya untuk Lima tahun terakhir,“ tegas Alumni FTSP GD ITB tahun 1990 tersebut

Yang dimaksud 18 unit jenis kapal pengangkut Tanjungbalai Karimun tersebut diantaranya:
KMSI 8 (GT 99), KMHK III (GT 30), KMPL (GT 149), KMRM 77 (GT 123), KMIM 12 (GT 228), KMPK 66 (GT 150), KMSK 8 (GT 92), KMFJ (GT 19), KMABGK (GT 268), KMBB (GT 239), KMBS (GT 292), KMSP (GT 202), KMTJB (GT 129), KMHY (GT 27), KMSI III (GT 76), KMLSCA (GT 148), KMS (GT 138), KMTB I (GT 128).

Menurut Andy, untuk tahap awal kemana saja kapal pengangkut ini membawa ikan hasil tangkapannya, kalau kebanyakan keluar dari Kepri, patut dipertanyakan semangat membangun Kepri nya di mana?.

“Saya sudah mendapat informasi bahwa grup pengusaha ikan di Kepri ini menolak program perikanan terukur, atas dasar apa?, apa demi melanggengkan hal-hal yang tidak terukur selama ini atau bagaimana? dan ini Syahbandar Perikanan Kepri juga harus bisa menjawab karena ruang lingkupnya sampai dengan Karimun,” kata Andy.

Jika hasil perikanan dari kapal pengangkut ini ternyata hanya menghasilkan devisa bagi daerah lain, kata Andi, maka pihaknya akan menindaklanjuti ke Kementrian Kelautan dan Perikanan.

“Berapa Pungutan Hasil Perikanan (PHP) yang sudah dipungut dari kapal pengangkut ini, dan apa kontribusinya untuk daerah, itu harus jelas. Daerah lain makmur karena hasil laut Kepri. Sementara Kepri sendiri menderita sampai untuk membiayai belanja Provinsi harus berhutang ke pusat. Ini yang tidak boleh terjadi seharusnya,” tegasnya.

Ia mengatakan, dirinya bersama LSM Alarm Indonesia saat ini sedang menginisiasi program Focus Group Discussion (FGD) tentang optimalisasi potensi perikanan Kepri.

Said Andy berharap para pengusaha perikanan Kepri tergabung dalam FGD tersebut, guna mencari solusi untuk meningkatkan perekonomian Kepri dari sektor kelautan.

“Jangan hanya nak menyebok usir kapal dari nelayan Jawa, tapi begitu tiba urusan dia nak bangun Kepri pun ternyata tak mau. Ini kerja menyayah dan menyampah, tak betul. Tapi begitupun, kalau masih bisa duduk bersama demi Kepri, kita masih toleransi. Tetapi jika tak mau juga, bekukan saja sekalian operasional seluruh kapal ini, tak ada guna juga bagi Kepulauan Riau,” ucap Andy dengan logat melayu kental.

Hingga berita ini dipublikasi, hallopost masih melakukan konfirmasi kepada pihak Syahbandar Perikanan Kepri. (red)

BACA JUGA  Berto dan Rombongan PP PPM Tiba di Lokasi Posko Penanganan Erupsi Gunung Semeru

Hallopostdotcom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eeeh, mau copy paste ya?