Membayar Aqiqah dan Qurban

  • Bagikan

 

Hai ktemu lagi dengan saya,

Kali ini saya akan membahas sesuai dengan judul diatas,

Berhubung sekarang sudah hampir akhir bulan suci Ramadhan dan tidak lama lagi kita pasti akan melakukan salah satu diantara keduanya.

Dalam hal ini saya akan menjelaskan satu persatu yaa,

Telah banyak ditemukan orang-orang yang mampu melaksanakan qurban bahkan sudah seperti dikatakan “fasion” karena berqurban banyak tersiar tanpa mereka mengetahui mana yang harus lebih dulu dilakukan.

Ok, memang semua amal ibadah kita yang baik-baik tidak ada yang hilang tapi alangkah lebih baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu mana yang lebih dulu yang harus kita lakukan agar jangan sampai amal baik yang kita lakukan terkantong disuatu tempat tidak dikeluarkan karena ada yang menghalanginya,

Apa ituu ?

Aqiqah

Aqiqah dan Qurban sama-sama sunnah Mu’akad yaitu dianjurkan untuk dilaksanakan bagi mereka yang mampu, kenapa tidak dikatakan “wajib” ?

Karena…

Wajib itu harus dikerjakan tetapi untuk aqiqah waktunya fleksible mulai dari bayi berusia 7 hari, 14 hari, 21 hari hingga sebelum baliq dan jika masih tidak terlaksanakanpun masih tidak berdosa.

Jadi kata mampu disini bukan saja saat kelahiran bayi tersebut tetapi hingga sianak tersebut sebelum baliq itu menjadi tanggung jawab orang tua.

Kita harus mengetahui tujuan dari aqiqah ini adalah merupakan rasa syukur kita telah dikaruniakan seorang anak, juga sebagai pembersih anak dari segala najisnya dengan mencukur rambutnya dan pemberian nama yang baik.

1. Hadist dari Nabi Besar muhammad SAW adalah “Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah-nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lainnya).

2. Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata jika Rasulullah bersabda, “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (Shahih Hadits Riwayat Bukhari).

BACA JUGA  Kapolri Lakukan Pembatalan Surat Telegram 6 April 2021

Dari hadist tersebut diatas makna tergadai itu adalah memutuskan antara kelahiran untuk hidup didunia yang fana ini dan juga sebagai kendaraannya di Yaumil Akhir untuk menjumpai orang tuanya disaat hendak disiksa di Api Neraka.

Jika kita memahami hal ini, kita akan mengerti menjadi orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar tetapi tanggung jawab yang besar tersebut akan berbalik kembali lagi kepada kita, dalam hal ini kendaraan yang telah kita sediakan melalui aqiqah untuk anak kita diakhirat nanti untuk mempercepat gerakan sianak menolong orang tuanya agar tidak sampai terkena siksa api neraka jadi jika kita tidak mengaqiqahkan anak kita maka setelah puas api negara melahap orang tuanya barulah sianak tiba ditempat. Dalam hal ini bisa dikatakan yang melakukan Aqiqah termasuk orang-orang yang beriman.

Dengan waktu yang sudah sangat fleksible tadi apakah masih mau kita mengabaikannya?

Jangan sampai Qurban yang telah kita lakukan pahalanya tersimpan disuatu tempat. Maka perlu kita menelaah kasus-kasus dibawah ini :

1. Bagi kita yang sudah dewasa yang sudah banyak berqurban, kita harus mencari tahu terlebih dulu apakah diri kita ini sudah diaqiqah atau belum? jika belum, maka sebaiknya kita mengaqiqahkan diri kita sendiri terlebih dahulu, jangan malu.

2. Terhadap orang-orang yang kita cintai yang akan atau telah kita qurban kan, kita juga harus mencari tahu terlebih dahulu.

3. Bagi kita sebagai orang tua mempunyai tanggung jawab mengaqiqahkan anak kita maksimal sebelum baliq, maka jika sudah balik belum juga mampu maka wajib bagi kita memberi tahu kepada anak.

4. Jika setelah baliq rezeki baru menghampiri kita, maka berikan dana aqiqah tersebut kepada anak kita agar dia mengqaiqahkan dirinya sendiri, Karena jika sudah baliq bukan hak orang tua lagi yang mengaqiqahkannya walau biaya aqiqah tersebut masih dari orang tuanya. Dana aqiqah itu boleh dari siapa saja tetapi pelaksanaannya tetap sesuai syari’at Islam yaitu sebelum baliq orang tua yang melakukannya dan setelah baliq diri sendiri yang melakukannya.

BACA JUGA  Polda Kepri Adakan Persiapan Personil Yang Bertugas Pada Pelaksanaan Pilkada Serentak 2020

5. Bagi kita orang tua yang pas-pasan hidupnya, dirinya sendiri belum diaqiqahkan maka aqiqahkan terlebih dahulu anak-anak hingga sebelum anak-anaknya baliq karena waktu untuk mengaqiqahkan anak terbatas tapi mengaqiqah diri sendiri sudah tidak terbatas.

Lebih mulia orang tua yang mengaqiqahkan anaknya sebelum baliq dari pada orang tua yang tidak mengaqiqahkan anak-anaknya.

Syarat Aqiqah :

1. Aqiqah dilakukan oleh orang tuanya dari berusia 7 hari, 14 hari, 21 hari hingga sebelum baliq dan setelah baliq menjadi tanggung jawab diri sendiri.

2. Jika dititipkan di Mesjid pada Idul Adha maka sebaiknya dilakukan sebelum sholat Id tetapi bisa dilakukan secara mandiri

3. Sabda Nabi Muhammad SAW : “Kemudian, binatang yang disyariatkan untuk akikah adalah kambing. Bagi anak laki-laki, sebaiknya diaqiqahi dengan dua ekor kambing, sementara anak perempuan hanya seekor”.

4. Kambing minimal berusia 1 tahun telah masuk tahun ke-2 dan tidak cacat.

5. Kambing Aqiqah disembelih dengan menyebut Asma Allah dan sebutkan nama anak yang diaqiqahkan, dipotong hanya sebatas sendi-sendi saja, dibersihkan, dimasak dan dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga

6. Pemilik Qurban (Shoibul Qurban) tidak berhak mendapatkan aqiqahnya tetapi jika sangat dibutuhkan boleh sekedar rasa, tidak boleh sampai tersisa dirumah. Qurban juga Sunnah Mu’akad, dimana Allah berfirman melalui surat Al Kautsar Ayat 2 yang artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah”.

Syarat Qurban :

1. Qurban dilakukan saat Idul Adha 10 Zulhijjah dan 3 hari Tasyrik berikutnya, sesuai surat Al Hajj ayat 34 yang artinya : “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah”.

2. Sebaik-baiknya dilakukan setelah Sholat Idul Adha

BACA JUGA  Kelompok Rentan, Mahasiswi KKN UNS Asal Batam Berikan Edukasi Terkait Covid-19 kepada Anak-anak

3. Hewan qurban harus binatang ternak. Unta, sapi, kambing, domba dan berusia sesuai syari’at.

  • Unta minimal berusia 5 tahun dan telah masuk tahun ke-6
  • Sapi minimal berusia 2 tahun dan telah masuk tahun ke-3
  • Domba berusia minimal berusia 6 bulan bagi yang sulit mendapatkan domba berusia 1 tahun, 1 tahun
  • Kambing minimal berusia 1 tahun dan telah masuk tahun ke-2
  • Sehat Tanpa Cacat, Rasulullah SAW merinci beberapa hal yang tak boleh dialami oleh hewan yang akan diqurbankan. Supaya memenuhi syarat hewan qurban, jangan memilih hewan yang buta sebelah, sakit, pincang, sangat kurus dan tidak mempunyai sumsum tulang. Pilihlah hewan kurban yang sehat.

4. Qurban kambing untuk 1 orang dan Sapi berbagi untuk 7 orang (sapi/kerbau/unta) sesuai dengan hadis HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi : “Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang”.

5. Hewan qurban disembelih dengan menyebut Asma Allah dan sebutkan nama yang diqurbankan, dipotong sesuai selera, dibersihkan, dibagikan kepada mereka yang membutuhkan

6. Pemilik Qurban (Shoibul Qurban) berhak mendapatkan 1/3 qurbannya, 1/3 dibagikan kepada sanak sauadara dan 1/3 nya kepada Fakir miskin, Anak Yatim Piatu juga bagi yang membutuhkan atau seluruhnya di qurbankan pun boleh, tidak terlalu mengikat.

Dari penjelasan diatas sudah terlihat aqiqah mempunyai syarat yang lebih terikat dari berqurban,

Demikianlah penjelasan tentang aqiqah dan qurban yang perlu untuk diketahui. Semoga penjelasan ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan tentang bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Semoga kita tergolong dalam orang-orang yang beriman.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *